Alive Love

ALOVE COVER

Cast :

  • Kim Woo Bin
  • Ahn Ji Seol

Genre : Romance

Length : One-shot

Sequel :

***

No matter what happens, even when the sky is falling down…

I’ll promise you, that I’ll never let you go…

***

 

“Jiseol bertahanlah.. Ku mohon.. kau pasti bisa melewati ini semua.. Jebal.. Untukku, bertahanlah..”

Woobin tak bisa menahan air matanya. Jiseol kembali masuk ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya yang semakin memburuk. Dokter tak bisa melakukan operasi karena keadaan Jiseol yang masih koma. Dokter hanya bisa melakukan prosedur dengan membantunya bertahan melalui alat bantu pernapasan. Jika alat ini dilepas maka Jiseol akan kesulitan untuk bernapas dan kemungkinan terburuknya adalah kematian.

 

“Aku takut, Woobin-ah..”

“Gwaenchana, aku disini. Kau memilikiku sekarang.”

Woobin tersentak dari tidurnya. Ia bermimpi mimpi yang sama dua hari ini. Dalam mimpinya Jiseol terlihat sangat pucat dan ketakutan, lalu Woobin memeluk Jiseol dan mencoba untuk menenangkan gadis itu. Dan hari ini, sebelum ia terbangun dari mimpinya, ia sempat mengecup kening Jiseol dengan lembut.

 

Woobin tinggal di ruang tunggu rumah sakit dua hari ini. Dia tak bisa pulang ke rumah dengan tenang dan meninggalkan Jiseol dengan kondisi yang semakin hari semakin memburuk itu. Kakak Jiseol, Ahn Jimin juga tinggal dirumah sakit untuk menjaga Jiseol. Tak ingin sesuatu terjadi pada adiknya. Ia menitipkan kedua putrinya yang masih kecil dirumah Ibu mertuanya.

Jimin barusaja kembali dari kafetaria rumah sakit dan menemukan Woobin tengah duduk diruang tunggu sambil memegangi kepalanya. Jimin kemudian mendekat dan menghampiri Woobin.

“Kau tak pulang ke rumahmu? Bukankah kau juga harus pergi kuliah?” Tanya Jimin pada Woobin sambil menyerahnya secangkir kopi hangat pada Woobin.

“Aniyo.. Aku ingin tetap disini. Hatiku tak tenang jika aku meninggalkan rumah sakit.” Jawab Woobin lalu menyeduh kopi hangat ditangannya itu.

“Geurae, aku sagat tahu bagaimana kekhawatiranmu, karena aku juga merasakan itu. Tetapi jangan memaksakan dirimu. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Kau tak boleh sampai jatuh sakit juga.” Ujar Jimin.

Baru seteguk Woobin meminum kopi yang ia dapat dari Jimin, dokter Han datang dengan tiba-tiba dan mengatakan bahwa Jiseol telah melalui masa kritisnya. Jiseol barusaja membuka kedua matanya.

Tanpa banyak bertanya Woobin dan Jimin langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke ruangan Jiseol untuk melihat keadaan gadis itu.

 

Sesampainya diruangan, ia melihat Jiseol yang lemah sedang berbaring diranjang dan sedang dipijat oleh dua orang perawat. Setelah pasien menjalani Koma yang panjang, tubuh Jiseol harus terus diterapi agar otot-ototnya tidak kaku. Karena setelah mengalami koma, hal yang paling buruk adalah pasien bisa saja mengalami kelumpuhan karena terlalu lama berbaring.

Jiseol baru bisa membuka matanya. Dokter telah melepas alat bantu pernapasan yang selama ini membantunya bertahan hidup dan melalui masa koma. Jiseol sudah mulai bisa menggerakkan bola matanya. Ia melihat Woobin yang berdiri disamping kakaknya dengan tubuh yang masih bergetar.

Jimin begitu bahagia mengetahui adiknya itu kini telah sadar dari koma. Ia tak bisa menahan air matanya, dan digenggamnya tangan Jiseol yang masih dingin dan pucat itu. Jiseol yang melihat kakaknya berlinang airmata itu mencoba untuk membuka dan menggerakkan mulutnya, namun terasa begitu sulit. Jiseol hanya bisa tersenyum dengan air mata yang mengalir dari matanya.

Melihat Jiseol yang tak bisa berbicara ataupun menggerakkan bibirnya, Woobin bertanya pada dokter apakah ada sesuatu yang salah? Mengingat sebelumnya juga Jiseol mengalami kecelakaan parah dan menyebabkan koma.

Dokter Han lalu menjelaskan bahwa pasien yang mengalami koma leih dari dua minggu memang tak bisa langsung menggerakkan organ tubuhnya dengan baik. Apalagi Jiseol yang mengalami koma lebih dari enam bulan. Masih sangat sulit baginya untuk bergerak ataupun sekedar berbicara. Itulah mengapa harus dilakukan terapi secara rutin agar ia bisa kembali menggerakkan organ tubuhnya dengan normal

***

Tiga minggu berlalu, Jiseol sudah mulai menunjukkan perkembangannya. Setelah sadar dari koma, Jiseol harus menjalani dua kali operasi pada otak dan paru-parunya. Kecelakaan parah yang ia alami membuat darah masuk ke dalam otaknya yang menjadi penyebab dari koma, dan paru-parunya mengalami sedikit pembengkakan karena udara tak bisa masuk dengan baik. Namun beruntung, Jiseol bisa selamat dan melewati masa-masa sulit itu.

Woobin kembali datang ke rumah sakit dengan membawa sebuket bunga ditangannya. Ia tak bisa datang setiap hari ke rumah sakit karena ia sedang melaksanakan ujian akhir semester, jadi ia hanya bisa datang beberapa hari sekali. Setidaknya ia sudah bisa tenang sekarang karena mengetahui Jiseol sudah jauh lebih baik.

 

Jiseol sedang menjalani terapi ketika Woobin datang. Woobin masuk ke dalam ruang perawatan Jiseol dan meletakkan sebuket bunga itu dimeja samping ranjang Jiseol. Suster yang tadinya sedang membantu Jiseol terapi kemudian keluar.

Jiseol melilhat Woobin meletakkan sebuket bunga dimeja itu kemudian menatap Woobin dan tersenyum. Ia lalu membungkuk memberi salam dan juga sebagai ucapan terima kasihnya. Melihat Jiseol tersenyum padanya membuat hati Woobin bahagia dan berbunga-bunga. Ia membalas salam dan juga balik tersenyum pada gadis berparas cantik itu. Kini Woobin malah bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia sedang bermimpi? Melihat Jiseol secara nyata seperti ini, terasa begitu berbeda.

“Nuguseyo? (Anda siapa?)

Raut muka Woobin langsung berubah ketika ia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jiseol barusan, “Nuguseyo?”. Itu adalah kata pertama yang Woobin dengar dari mulut Jiseol namun begitu mengejutkan Woobin. Woobin menatap kearah dua bola mata yang masih ia ingat betul dulu pernah menatapnya dengan penuh cinta, kini mata indah itu seolah menatap Woobin dengan penuh kebingungan.

“Kau tak mengingatku?” Tanya Woobin dengan menggunakan bahasa formal.

“Mianhada. Aku benar-benar tak bisa mengingat apapun tentangmu. Apakah, kita pernah bertemu sebelumnya?” Jawab Jiseol dengan suara lembutnya.

***

“Aku juga sangat terkejut ketika pertama kali dia mengatakan ceritanya padaku. Tetapi melihat tatapan matanya dan juga kesungguhannya menemanimu hingga kau sadar, aku yakin dia tidak berbohong.

Aku beberapa kali menemui temanku dan menceritakan tentang hal ini, mereka bilang hal itu memang bisa saja terjadi. Roh dari orang koma, tinggal diruang antara hidup dan mati. Mengenai siapa saja yang bisa melihat roh itu, itu adalah misteri.” Jimin menjelaskan ketika Jiseol bertanya tentang namja yang sering datang mengunjunginya dengan membawa sebuket bunga untuknya itu.

“Geundae unnie, kenapa hanya Kim Woobin yang bisa melihatku? Apakah dia memiliki semacam indra ke-enam?” Tanya Jiseol lagi.

“Aku juga tak tahu tentang itu. Aku pernah bertanya tentang hal itu juga, tapi dia mengatakan bahwa ia tak memiliki indra ke-enam ataupun pernah bertemu dengan arwah sebelumnya.

Apakah kau benar-benar tak mengingat apapun, Jiseol-ah?”

“Eobseo..(Tak ada..) Aku tak bisa mengingat apapun tentang namja itu. Geundae, setiap kali aku menatap matanya, tatapan itu memang seperti tak asing lagi bagiku.”

***

Woobin barusaja keluar dari rumahnya. Ia mengendarai mobil pribadinya, hendak pergi ke kampus untuk menyerahkan skripsinya. Masih didaerah perumahan rumahnya, ia kemudian menghentikan mobilnya ketika melihat pintu rumah Jiseol terbuka.

Sudah lama sejak kejadian itu, rumah ini benar-benar kosong karena tak ada yang menempati. Papan kayu yang tadinya ada didepan rumah itu juga sudah tidak ada. “Apakah rumah ini sudah terjual?” Tanya Woobin dalam hati.

Woobin yang penasaran kemudian turun dari mobilnya untuk memastikan. Ia masuk ke dalam rumah yang rapi itu. Isi didalam rumah itu masih tidak berubah, hanya saja kain-kain putih yang digunakan untuk menutupi perabotan agar tidak terkena debu sudah disingkirkan. Mungkin rumah ini benar-benar sudah terjual.

“Oh..” Sebuah suara gadis tekejut melihat kedatangan Woobin.

“Kim Woo Bin-ssi. Apa yang kau lakukan disini?” Gadis itu tak lain adalah Jiseol yang barusaja keluar dari dapur. Jiseol berjalan dengan dibantu kursi roda.

“Jiseol-ah.. Ani, maksudku, Ahn Ji Seol-ssi, kau disini?” Jawab Woobin sedikit canggung.

“Gwaenchana, kau bisa memanggilku seperti itu. Kita sudah beberapa kali bertemu, jadi santai saja.”

“Maaf aku masuk tanpa izin. Aku masuk karena penasaran, ku pikir rumah ini sudah terjual dan pemilik barunya telah datang.”

“Ahh, Ye. Aku memintah Ayahku untuk membatalkan menjual rumah ini karena aku masih ingin tinggal disini.”

“Kau akan tinggal disini lagi? Apakah kau akan kembali kesini lagi?”

“Ne, aku sangat ingin sekali tinggal disini lagi, tetapi tidak sekarang mengingat keadaanku yang seperti ini. Aku masih akan tinggal di rumah Unnie-ku untuk beberapa waktu. Tetapi kau tahu, tinggal dirumah kakak yang sudah berkeluarga sedikit tidak nyaman.”

Suasana terasa begitu canggung antara Woobin dan Jiseol. Woobin mencoba untuk menahan perasaannya. Jantungnya yang berdetak lebih cepat setiap kali melihat Jiseol. Ia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan. Ini seperti ketika ia pertama kali bertemu dengan Jiseol hari itu. Tepatnya, bertemu dengan roh Jiseol. Namun hari ini, Jiseol yang nyata.

“Ah, aku sampai lupa untuk mempersilahkanmu untuk duduk. Duduklah, kau mau minum teh? Atau sesuatu yang lain?” Jiseol juga sedikit gugup ketika Woobin terus memandangnya, ia mengalihkan dengan menawarkan Woobin duduk dan minum teh.

“Aniyo, aku harus segera pergi. Sebenarnya aku harus ke kampus hari ini untuk menyerahkan skripsiku.” Tolak Woobin sambil menunjuk ke arah mobilnya yang ia parkir didepan rumah Jiseol.

“Ahh.. Ye. Kau pasti sangat sibuk.” Jawab Jiseol.

“Boleh aku bertanya satu hal sebelum pergi?”

“Ye?”

“Apakah.. kau akan kemari lagi besok?”

“Entahlah, aku juga tidak bisa memastikan hal itu.”

***

“Annyeonghaseyo..”

“Oh, Kim Woo Bin-ssi.”

Jiseol barusaja diantar oleh Jimin setelah dari rumah sakit untuk terapi. Jiseol sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Sekarang ia telah bisa berjalan dengan hanya bantuan tongkat saja. Woobin langsung menghampiri Jiseol ketika ia melihat mobil kakak Jiseol pergi. Woobin sudah menunggu Jiseol sejak dua hari yang lalu. Ia begitu gembira melihat Jiseol kembali ke rumahnya lagi, terlebih sekarang Jiseol tak lagi duduk di kursi roda saja.

“Eomma-ku membuatkan ini untukku, ku pikir aku juga harus membaginya denganmu karena kau sendirian disini dan juga kau pasti masih kesulitan untuk memasak sendiri.” Woobin membawa sekotak kimchi dan juga sup udon ditangannya. Ia hendak memberikannya pada Jiseol namun ia urungkan niatnya itu.

“Ah.. Biar sekalian aku bantu meletakkannya di dapurmu.” Ujar Woobin yang kemudian langsung masuk ke rumah Jiseol begitu saja. Jiseol hanya bisa tersenyum dan mengikuti Woobin dari belakang.

“Gomapta. Kau tak perlu repot-repot begitu. Jimin unnie sudah menelepon Ahjjuma untuk datang dan memasak untukku.” Ucap Jiseol ketika mereka sampai di dapur rumah Jiseol.

“Aniya.. Eomma ku juga sangat senang ketika aku memintanya membuatkan makanan ini untukmu.”

“Kau yang meminta Eomma-mu untuk memasakkan semua ini untukku? Bagaimana kau bisa tahu kalau ini semua adalah makanan kesukaanku?”

Woobin menyesal karena ia tak bisa menjaga lidahnya yang terpeleset mengatakan yang sebenarnya. Dia memang sengaja meminta Ibunya untuk memasakan semua makanan ini. Woobin mengetahui semua makanan kesukaan Jiseol karena ia pernah berkencan dengan ‘Roh’ Jiseol. Tetapi ia tak tahu bagaimana menjelaskannya pada Jiseol.

“Ne, apakah aku terlalu berlebihan?”

“Sejujurnya memang ini sedikit berlebihan, tetapi aku senang. Setidaknya aku tahu semenjak aku mengenalmu, aku tidak lagi takut merasa kesepian jika pulang kemari.

 

Jiseol kemudian mengajak Woobin untuk mengobrol di halaman belakang. Terdapat sebuah taman kecil dibelakang rumah Jiseol yang dipenuhi dengan bunga dan juga tanaman, sama seperti di taman depan rumahnya, hanya saja yang di halaman belakang ada lebih banyak jenis bunga dan tanaman.

“Kelihatannya kau sangat menyukai bunga dan juga tanaman.” Ujar Woobin ketika ia membantu Jiseol untuk duduk di bangku kecil yang ada di taman itu.

“Oh, aku tinggal di desa dulu. Eomma dan Appa memiliki sebuah perkebunan bunga yang hasil tanamnya biasa dikirim ke beberapa kota besar di Korea. Aku tumbuh dan besar bersama dengan bunga dan tanaman yang ditanam oleh Eomma, mereka sudah seperti teman bagiku.” Jawab Jiseol sambil menerawang ke masa kecilnya yang begitu riang.

“Ahh.. aku baru ingat sesuatu. Chamkanman, aku punya sesuatu untukmu. Aku akan mengambilnya dirumahku dan kembali kemari. Chamkanman gidariyo.” Woobin tiba-tiba teringat sesuatu dan segera berlari keluar dari rumah Jiseol. Jiseol masih terpaku ditempat duduknya, ia sedikit bingung dengan sikap Woobin.

Tak lama kemudian Woobin kembali ke dalam rumah Jiseol dengan nafas yang terengah-engah karena berlari. Woobin kemudian menyerahkan sebuah pot bunga yang ia bawa ditangannya kepada Jiseol.

“Oh, Cameron Highlands Daisy? Ini adalah salah satu bunga favoritku. Bunga daisy jenis ini sangat sulit untuk didapatkan karena hanya bisa hidup didaerah sejuk atau didataran tinggi.” Jiseol begitu terkejut melihat bunga yang dibawa oleh Woobin.

“Aku melihat bunga daisy yang kau tanam dilantai dua mulai layu dan mati karena tak pernah dirawat. Jadi aku berinisiatif untuk memberikanmu ini sebagai ganti daisy mu yang layu.” Woobin menyerahkan bunga daisy itu dan diterima dengan senang hati oleh Jiseol.

“Ne, aku ingin sekali pergi ke kamarku dilantai dua, aku sangat merindukan kamarku dan juga bunga-bungaku. Tapi apa daya, aku masih belum bisa naik tangga dengan keadaanku yang seperti ini.” Jawab Jiseol dengan sedikit sedih mengingat ketidak mampuannya untuk naik ke lantai dua. Ia bahkan baru belajar untuk berjalan dengan menggunakan tongkat hari ini.

“Kau mau aku untuk membawamu ke atas?” Tanya Woobin.

“Ne?”

“Mianhamnida, karena aku sangat lancang. Aku hanya ingin membantumu.”

Jiseol masih terkejut dengan pertanyaan Woobin. Woobin dengan tiba-tiba menggendong Jiseol dan membawanya menaiki tangga untuk naik ke lantai dua rumah Jiseol.

Di lantai dua hanya ada satu kamar, sisanya adalah balkon yang dibuat sebagai taman.

“Gomawo.. Kau tak seharusnya melakukan ini.” Ujar Jiseol ketika Woobin menggendongnya.

“Berhenti mengucapkan terima kasih. Aku melakukan ini karena aku menginginkannya. Kau sangat enteng sekali, kau harusnya makan yang banyak agar cepat pulih.”

“Bagaimana aku tidak mengatakan terima kasih jika ada orang yang baru aku kenal membantuku dan memberiku banyak hal.” Woobin terdiam mendengar jawaban Jiseol. Baginya ia sudah mengenal Jiseol sudah sejak lama, namun sangat menyakitkan baginya ketika mengetahui bahwa hanya dirinya lah yang tahu tentang hubungannya dan kenangan bersama dengan Jiseol waktu itu.

 

Dibenak Woobin, Jiseol tetaplah gadis yang ia cintai. Satu-satunya gadis yang bisa mengalihkan dunianya. Ia terjebak dengan kisah cintanya yang miterius. Kisah cinta yang bahkan ia sendiri tak mengerti mengapa bisa mengalaminya. Antara halusinasi dan juga kenyataan. Jika benar selama ini yang ia kencani adalah seorang ‘Roh’ bagaimana bisa ia bisa merasakan sentuhan dan juga melihat Jiseol begitu nyata? Suaranya, tatapan matanya, Woobin sangat mengenal itu.

Ketika pertama kali mengetahui bahwa Jiseol sebenarnya tengah koma, Woobin sangat terkejut dan tidak percaya. Ia berusaha untuk menghapus kenangannya bersama Jiseol dan membenarkan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa itu hanyalah halusinasinya saja. Namun semakin Woobin ingin melupakan Jiseol, semakin dalam pula perasaannya pada gadis itu. Itulah kenapa ia sabar menanti Jiseol siuman dan mengetahui bahwa Jiseol bahkan tak mengingat apapun tentangnya.

 

“Tak perlu sungkan. Anggap saja aku ini adalah teman lamamu, yang bertemu lagi setelah sekian lama. Meskipun kau sudah hampir lupa, tetapi, bukankah kita bisa memulainya lagi dari awal?”

 

Sama halnya Jiseol, ia tak bisa percaya dan menganggap Woobin gila karena mengatakan pernah berkencan dengannya, padahal ia bahkan tak pernah ingat pernah bertemu dengan Woobin sebelum ia mengalami koma. Tetapi semakin ia sering bertemu mengenal Woobin, cerita tentang Woobin yang pernah berkencan dengannya itu terdengar cukup nyata.

Woobin bahkan mengetahui makanan kesukaannya, bunga favoritnya dan bertindak seolah mereka telah mengenal sejak lama. Ada perasaan aneh ketika Jiseol memikirkan tentang hal ini.

“Tatapan mata itu..” Ucap Jiseol dalam hati.

***

“Mau aku ambilkan tongkatmu?” Tanya Woobin ketika ia melihat Jiseol yang sedikit kesulitan ketika hendak menanam bunga daisy yang ia berikan kepada Jiseol.

“Aniya.. kau akan lelah jika terus naik turun tangga.” Tolak Jiseol, ia berniat untuk tidak merepotkan Woobin lagi.

“Kalau begitu biar ku bantu. Aku akan memegang tanganmu begini untuk membantumu berdiri.” Woobin lalu memegang lengan Jiseol dan membantunya berdiri untuk menanam bunga daisy ditaman yang ada di balkon rumahnya.

“Gomapta Woobin-ssi.”

Meskipun suasana terasa masih sedikit canggung. Namun Jiseol terlihat sudah mulai nyaman berada bersama Woobin. Ia tak lagi gugup setiap kali berbicara pada namja itu. Woobin dengan sabar memegang tangan Jiseol dan membantu Jiseol menanam bunganya.

“Bagaimana dengan skripsimu? Bukankah beberapa hari yang lalu kau mengatakan bahwa kau mau menyerahkan skripsimu ke kampus?” Tanya Jiseol.

“Aku lulus. Bulan depan aku akan resmi diwisuda dan menyandang gelar sarjanaku. Ah, akhirnya.. aku sudah lama menantikan hari itu.” Jawab Woobin dengan bangga dan senyum lebar diwajahnya.

“Chukhahanda. Kau mengambil jurusan apa?”

“Arsitektur. Bagaimana denganmu?”

“Aku?”

“Oh, apakah kau kuliah juga?”

“Aku sudah lulus satu tahun yang lalu.”

“Jinjjayo? Jurusan apa?”

“Oh.. Aku lulus dari universitas yang tidak begitu terkenal karena aku tinggal di kota pinggiran. Aku mengambil jurusan desain taman dan sempat bekerja disebuah rumah produksi untuk menata taman yang akan digunakan sebagai lokasi photoshoot. Apakah kau sempat menunda kuliahmu? Kau terlihat lebih tua dariku, tetapi kau baru menyelesaikan kuliahmu tahun ini.”

“Aniya. Bukan menunda, tetapi aku pindah jurusan lain setelah tiga semester.”

“Waeyo?”

“Uri Abeoji adalah seorang pejabat pemerintahan. Dia ingin kedua putranya juga mengikuti jejaknya. Dia menyuruh aku dan hyungku untuk masuk ke dalam jurusan hukum. Hyungku berhasil lulus dan mendapatkan pekerjaan seperti Abeoji. Namun ketika aku mencoba untuk melakukan seperti yang hyung lakukan, aku tak bisa.

Aku kemudian memutuskan untuk pindah jurusan, lebih tepatnya aku mengikuti ujian masuk universitas ulang. Masuk ke jurusan hukum membuatku merasa tertekan. Aku benar-benar tak tahan karena itu bukanlah duniaku. Maka dari itu aku memilih untuk pindah jurusan dan melawan Abeojiku.

Apakah aku terlihat seperti anak yang buruk?” Jiseol tersenyum dan menatap Woobin ketika mendengar cerita dari Woobin.

“Aniya, kau bukanlah anak yang buruk. Melakukan hal yang tidak kau suka adalah siksaan. Setiap orang pasti memiliki pilihan dan kesukaannya masing-masing.

Aku juga pada awalnya ingin masuk ke jurusan pertanian saja agar aku bisa seperti Eomma karena aku juga sangat menyukai tanaman. Tetapi Appa dan Unnie melarangku. Mereka menyarankanku untuk mengambil jurusan desain taman, karena itu lebih modern dan memiliki prospek yang lebih bagus.

Awalnya itu memang cukup sulit, karena aku tidak pernah tertarik dalam bidang itu. Namun setelah aku menjalaninya, aku mulai menyukai dan menikmati itu, jadi aku melanjutkannya.”

 

Woobin dan Jiseol menjadi semakin dekat dengan obrolan-obrolan yang mereka jalin. Jiseol merasa senang karena Woobin tak henti-hentinya membuatnya kagum. Begitu juga dengan Woobin, meski ada beberapa obrolan yang sudah pernah ia bahas dengan ‘Roh’ Jiseol, tapi ini tetap saja, begitu menyenangkan. Jiseol semakin membuat Woobin terpukau.

***

“Oh, aku lupa dimana alat penyiram tanamanku..” Jiseol selesai menanam bunga daisy yang diberikan oleh Woobin di salah satu sudut taman yang ada di balkonnya. Ia hendak menyirami bunga itu, namun ia tak tahu dimana alat penyiram tanaman itu.

“Disini.. kau meletakkannya dibawah jendela kamarmu ketika terakhir kali kau menyirami bunga-bungamu.” Woobin yang tadinya berada disamping Jiseol, melepaskan genggaman tangannya pada lengan gadis itu untuk mengambil alat penyiram tanaman Jiseol.

“Woobin-sii.. bagaimana kau bisa tahu kalau aku meletakkannya dibawah jendela kamarku?” Jiseol lagi-lagi dibuat terkejut karena Woobin bahkan mengetahui dimana letak alat penyiram tanaman itu.

“Karena aku ada bersamamu ketika terakhir kali kau menyirami tamanmu. Aku menemanimu seharian waktu itu. aku…”

“Ne?”

“Lihatlah, aku bahkan tak bisa percaya bahwa aku hanya berhalusinasi saat itu. Aku bahkan tahu dimana kau terakhir kali meletakkan alat ini. Aku ingat betul bagaimana caramu menatapku. Suaramu, genggaman tanganmu, bahkan…”

Woobin meletakkan alat penyiram tanaman itu disamping Jiseol dan kemudian perlahan mengecup bibir Jiseol lembut. Jiseol hanya terdiam tak melawan. Ia tak mengerti mengapa ia bisa merasakan hal ini juga. Ciuman ini.. terasa tidak asing lagi dibibirnya.

Jiseol menggenggam lengan Woobin perlahan. Woobin semakin dalam mencium bibir Jiseol dan memeluk tubuh Jiseol. Tangan Woobin naik untuk memegang dagu Jiseol. Dilepaskannya ciuman itu dan menatap mata Jiseol dalam.

“Rasanya masih sama. Begitu manis dan nyata.. apa saat itu aku hanya berhalusinasi? Tidakkah kau merasakan hal yang aneh tentang ini?” Ujar Woobin ketika mereka melepaskan ciumannya.

“Nado molla… aku memiliki ingatan yang sangat bagus. Aku adalah orang yang bisa mengingat semuanya dengan detil. Aku bahkan ingat ketika sebuah truk besar menabrak mobilku dengan keras hingga mobilku terguling. Aku mengingat semuanya. Itu adalah hal terakhir yang aku ingat sebelum aku koma.

Tetapi aku tak bisa mengingat apapun tentangmu, tentang apa sebelumnya kita pernah bertemu. Ketika menatap matamu.. rasanya memang tak asing. Aku juga merasakan ciuman ini, bukanlah yang pertama kali bagiku. Aku tak mengerti semua ini. Aku benar-benar tak memilliki penjelasan apapun tentang ini semua.”

***

Woobin sedang berdiri didepan pintu masuk sebuah rumah sakit. Ia terlihat mondar-mandir, seperti sedang menanti seseorang. Ia kembali merogoh ponselnya dan memeriksanya. Cuaca sedang mendung sekarang, ia berpikir apakah mereka tak akan datang hari ini? Tak berselang lama, Woobin kemudian lari ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah sakit.

“Oh, Kim Woo Bin-ssi, apa yang kau lakukan disini?” Ujar seorang wanita ketika dia turun dari mobilnya.

“Annyeonnghaseyo, Noona. Aku keamari untuk menemani Jiseol terapi. Biar aku bantu Jiseol turun dari mobilnya.” Woobin membuka pintu mobil Ahn Jimin dan membantu Jiseol untuk turun dari mobil. Sementara kakak Jiseol, Jimin hanya tersenyum dan mengeluarkan tongkat Jiseol dari bagasi.

“Kau yakin aku bisa mempercayakan Jiseol kepadamu?”

“Oh.. Aku akan menjaganya dengan baik. Jiseol mengatakan dia ingin kembali ke rumahnya, jadi kau tak perlu khawatir.”

“Geurae.. melihat kesungguhanmu sepertinya aku tak perlu lagi mengkhawatirkan adikku yang masih lemah ini. Aku akan pulang kalau begitu. Jangan lupa untuk tetap menghubungiku. Aku pergi dulu.”

“Ne, arraseo Unnie.” Jawab Jiseol lalu masuk ke dalam rumah sakit bersama dengan Woobin untuk menjalani terapi.

***

“Kau sudah bisa berjalan lagi sekarang. Bagaimana perasaanmu?” Woobin sedang berjalan dengan Jiseol seakarang. Meskipun masih sedikit gemetar, namun kini Jiseol tak perlu lagi menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.

“Rasanya sangat menyenangkan. Aku tak perlu lagi menggunakan tongkat dan bisa berjalan normal lagi.” Jawab Jiseol antusias. Senyum diwajahnya mereka seperti mawar merah.

“Kau mau berjalan-jalan sebelum pulang? Aku tahu restoran yang lezat didekat sini. Mau aku membawamu kesana?” Tawar Woobin dan langsung dibalas anggukan tanpa ragu oleh Jiseol.

 

“Eottaeyo? Apakah kau suka daging panggangnya?” Tanya Woobin ketika mereka sedang makan di sebuah restoran daging sapi.

“Hmm.. enak sekali. Sudah lama aku tak makan daging panggang seperti ini.” Jawab Jiseol sambil mengunyah daging panggang di mulutnya.

“Oh, Kim Woo Bin, kau juga makan disini? Ige, nuguya? Neoui yeojachingu?” Seorang namja tiba-tiba menghampiri Woobin dan Jiseol dimeja mereka.

“Kwanghee, apa yang kau lakukan disini? Dan gadis ini..” Jawab Woobin yang sedikit terkejut dengan kedatangan Kwanghee, teman kuliahnya itu.

“Annyeonghaseo, Ahn Ji Seol imnida.” Jiseol memberi salam dan memperkenalkan dirinya pada Kwanghee.

“Ahn Jiseol? Ahn… Ji… Seol? Oh, majja, aku ingat! Gadis yang sering Woobin sebutkan sebagai yeojachingunya bernama Ahn Jiseol. Kau kah orangnya?” Meski awlanya sedikit lupa, namun Kwanghee masih ingat betul Woobin sering bercerita tentang gadis yang tinggal didekat rumah Woobin. Woobin juga beberapa kali mengatakan bahwa gadis itu adalah kekasihnya, namun Kwanghee dan teman-temannya meragukan itu karena Woobin tak pernah menunjukan gadis itu ataupun menunjukan fotonya sebelumnya.

“Itu.. biar aku yang menjelask…” Woobin mencoba untuk menyelah agar Kwanghee tidak semakin jauh berbicara karena Kwanghee memang terkenal dengan mulut embernya.

“Ahh.. kau memang sangat cantik, seperti yang diceritakan oleh Woobin. Boleh aku bergabung dengan meja kalian saja? Aku bersama dengan teman kami juga. Jiwon-ah, kemarilah! Kita bergabung dengan Woobin dan kekasihnya disini saja.” Woobin sudah tak bisa menghentikan Kwanghee yang terus saja mengoceh dan bahkan mengajak temannya untuk ikut bergabung tanpa persetujuan Woobin. Woobin hanya bisa menggaruk keningnya yang tak gatal.

 

“Oh, jadi kau gadis itu? Mianhada, aku sempat tidak mempercayai Woobin ketika ia bilang ia sudah memiliki kekasih. Ku pikir dia mengatakan itu hanya untuk menggertak Lee Yoo Jin untuk berhenti mengejar-ngejar Woobin. Setelah melihatmu sekarang aku baru percaya bahwa Kim Woo Bin benar-benar sudah memiliki kekasih.” Ujar Kim Jiwon ketika ia ikut bergabung dimeja Woobin bersama dengan Jiseol dan Kwanghee.

“Tentu saja kami tak percaya. Bahkan Ibu Woobin juga tak mempercayai ada gadis cantik yang dikencani Woobin yang tinggal di dekat rumah mereka.” Lanjut Kwanghee.

“Ya, Kwanghee, Kim Jiwon, meokgo! Kalian sudah terlalu banyak mengoceh hingga membuat telingaku menguap. Meokgo, sebelum lidah kalian yang aku taruh diatas panggangan.” Woobin sudah kehabisan kesabaran, ia malu jika mereka terus menceritakan tentang cerita itu didepan Jiseol.

“Ya, waeyo, biarkan saja. Aku masih ingin mendengarkan cerita mereka. Itu bukanlah cerita yang memalukan, jadi jangan menekuk wajahmu seperti itu.” Jiseol mencoba untuk menenangkan Woobin dan memegang wajah namja itu untuk membentuk senyum diwajahnya agar tak jengkel lagi. Sementara Kwanghee dan Jiwon hanya bisa terkekeh.

“Kalian pasangan yang serasi. Kita harus lebih sering makan bersama seperti ini.” Ujar Jiwon dan disahuti anggukan oleh Kwanghee.

***

“Kau sudah benar-benar kembali tinggal disini lagi sekarang? Sendirian?” Ujar Woobin ketika ia membantu Jiseol untuk merapikan kamarnya.

“Oh, aku sudah bisa berjalan dengan normal sekarang. Jadi Jimin unnie mengizinkanku untuk kembali tinggal disini. Appa akan sering pulang ke Seoul, jadi aku harus disini untuk menemaninya. Lagipula, aku juga sudah memiliki seseorang yang menjagaku, aku tak akan merasa kesepian lagi.” Jawab Jiseol tanpa mengalihkan pandangannya dari kopernya dan menurunkan semua barang-barangnya yang selama ini ia bawa untuk tinggal dirumah Jimin.

“Seorang penjaga? Nugu? Kau pikir aku mau menjadi body guardmu?” Woobin menghentikan aktivitasnya dan menatap Jiseol sambil berkacak pinggang.

“Ya.. jangan seperti itu.” Jiseol balik menatap Woobin dengan tatapan memohon.

“Panggil aku Oppa, maka aku akan setuju untuk terus menjagamu.”

“Mwo? Oppa?”

“Oh, kau lebih muda dariku, tentu saja kau harusnya memanggilku Oppa. Dan juga… ah, sudahlah kalau tak mau juga tak apa.”

“Hajima… baiklah,.. Oppa. Woobin oppa, kajima… Kau puas?” Woobin barusaja mau berbalik ketika Jiseol menolak untuk memanggilnya Oppa. Namun Jiseol menahan lengan Woobin dan mengatakan bahwa ia bersedia.

“Kau terlihat lebih manis ketika memanggilku Oppa.” Woobin terseyum ketika Jiseol setuju untuk memanggilnya Oppa, ia lalu mengecup bibir Jiseol.

“Yaaaaa!” Jiseol lalu berteriak karena Woobin mencuri ciumannya dengan tiba-tiba.

“Wae? Kau mau marah? Kalau begitu balas saja.” Woobin yang tadinya mau berlari dan dikejar oleh Jiseol, berhenti dan menunduk sambil memonyongkan bibirnya.

“Lupakan. Aku tak marah pada Oppa. Aku tak akan membalas dendam.”

“Kalau kau tak marah, apakah itu berarti aku bisa melakukannya lagi? Lebih lama lagi? Setiap hari.”

“SIRHEO! KKEOJYEO! (Tidak! MENYINGKIR!)” Kali ini Jiseol yang berlari untuk menghindari Woobin. Ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai dasar.

“Ya, jangan lari! Ahn Ji Seol! Buka pintunya!” Woobin terus mengejar Jiseol hingga Jiseol masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Berharap Woobin berhenti mengejarnya. Pipi Jiseol sedang merah merona karena malu sekarang.

***

“Hyena, Hyema, kemarilah, bibi sudah sangat rindu sekali dengan kalian berdua. Apakah kalian mengerjakan PR dengan baik meskipun tak ada Bibi Jiseol yang membantu kalian?” Jiseol memeluk dua gadis kecil yang barusaja masuk ke dalam rumahnya. Jiseol begitu girang ketika kedua keponakannya datang berkunjung.

“Apakah kau begitu sibuk hingga tak sempat menghubungiku?” Jimin datang berkunjung bersama dengan kedua putri kecilnya ke rumah Jiseol.

“Aniya… aku terlalu bersemangat dengan taman baruku. Unnie datang sendiri? Bagaimana dengan restoran?”

“Oh, kami tutup hari ini karena paman dari kakak iparmu sedang sakit, jadi kami menjenguknya. Suamiku harus segera kembali ke kantor setelah dari rumah sakit, jadi aku memutuskan untuk mengunjungimu sendiri bersama dengan anak-anak.”

“Kenapa harus membawa makanan sebanyak ini? Aku tinggal sendiri, bagaimana aku menghabiskan semuanya?”

“Aku hanya membawa beberapa persediaan makanan. Nam ahjjuma minggu ini tak akan bisa kemari. Aku tahu kau tak pandai memasak, jadi aku membawakanmu ini.”

Jimin hendak memasukan beberapa kotak makanan yang dibawanya, namun terkejut ketika melihat isi kulkas Jiseol masih penuh.

“Ya, apakah kau makan diluar akhir-akhir ini?” Tanya Jimin pada Jiseol yang sedang sibuk bermain dengan kedua keponakannya.

“Anni…” Jawab Jiseol singkat.

“Lalu mengapa kulkasmu masih setengah penuh?”

“Ibu Woobin oppa sering mengirim makanan untukku. Masakannya sangat lezat. Jadi aku tak pernah makan yang ada di kulkas.”

“Woobin Oppa? Ya… mungkinkah.. kau berkencan dengan Woobin, huh? Kau benar-benar berkencan dengan namja itu?” Jimin menghampiri Jiseol dan bertanya pada gadis berambut coklat itu.

“Itu… Bukan seperti itu…” Jiseol sedikit gagap menjawab pertanyaan Kakaknya.

“Aishh… mengaku saja. Kau sudah jatuh cinta? Kalian akhirnya benar-benar berkencan? Kau dulu bilang bahwa kau mungkin tak akan bisa lagi jatuh cinta setelah putus cinta dari Lee Kwang Soo. Aku melihat kau mengunggah fotomu berdua bersama dengan Kim Woo Bin di SNS. Kalian terlihat manis berdua.”

“Ahh, unnie~~ Lee Kwang Soo oppa hanyalah masa laluku! Kenapa kau harus menyebutkan namja itu lagi setelah aku sudah melupakannya?!”

“Ya… kenapa wajahmu memerah begitu? Aku hanya menyebutkan nama Lee Kwang Soo, kenapa kau begitu malu? Kau masih menyukainya? Apa dia masih suka menghubungimu via SNS? Ya, Ahn Ji Seol.”

Jiseol dengan muka merahnya berlari ke kamarnya di lantai dua sambil menutup mukanya karena malu. Sementara kakaknya, Ahn Jimin hanya terkekeh.

 

Woobin ternyata diam-diam mendengar percakapan Jiseol dengan Jimin dari luar rumah Jiseol. Tadiya ia hendak mengunjungi Jiseol, namun ia urungkan setelah melihat Jimin sedang berbincang bersama Jiseol di dalam rumah.

“Gadis itu sangat lucu.” Ucap Woobin lalu kembali ke rumahnya.

***

“Oh, Oppa! Kenapa kau suka sekali mengagetkanku..” Jiseol terkejut ketika dengan tiba-tiba Woobin memeluknya dari belakang.

“Kau saja yang sering tak menyadari kehadiranku. Apa yang sedang kau lakukan, huh?” Tanya Woobin yang melihat Jiseol sibuk dengan peralatan dapur. Biasanya Jiseol hanya sibuk dengan peralatan tamannya, kali ini sedikit berbeda dan membuat Woobin heran.

“Tentu saja aku sedang memasak.”

“Begitukah? Tak biasanya, memasak apa? Apakah aku bisa mencicipinya?”

“Aishh… Oppa geumanhae! Jangan seperti ini, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Lepaskan.” Jiseol merasa terganggu dengan Woobin yang memeluknya dari belakang.

“Ya, aku ini sangat merindukanmu! Aku baru saja kembali dari test masuk kerja, kau bukannya menyambutku dan menghiburku, malah sibuk dengan mainan barumu. Sudahlah, aku pulang saja.” Woobin balik kesal setelah Jiseol melepaskan pelukannya dan malah mengacuhkannya.

Woobin barusaja akan keluar dari rumah Jiseol namun kemudian gadis itu menarik tangan Woobin. Woobin dengan raut muka cemberutnya berubah ketika menatap mata Jiseol yang sayu dengan tatapan dalam seolah berkata, “Oppa kajima…”. Jiseol tersenyum sekilas dan berjinjit untuk mengecup bibir Woobin lalu memeluk namja dengan tubuh jakung itu.

“Mianhae~” Ucap Jiseol sambil memeluk Woobin.

Woobin yang tadinya hendak marah kini telah luluh dengan perlakukan manis dari kekasih hatinya itu. Ia memeluk balik Jiseol dan mengecup puncak kepala Jiseol.

“Sampai hati kau berani mengabaikanku lagi, aku pastikan kau akan menyesal. Kau mengerti?” Ujar Woobin dengan senyum yang kini kembali menghiasi wajah rupawannya.

“Ne, arraseo~ Tadinya aku ingin sekali menelepon Oppa dan menanyakan tentang test kerjanya, tapi ku pikir aku akan mengganggu. Jadi aku menunggumu dengan mencoba belajar memasak.” Jiseol melepaskan pelukannya dan menatap kedua bola mata Woobin.

Woobin tak menjawab apapun, ia tiba-tiba mendorong Jiseol hingga terduduk ke sofa ruang tamu rumah Jiseol.

“Jangan menatapku seperti itu. Kau benar-benar sudah membuatku gila.” Ucap Woobin lalu duduk disamping Jiseol dan menarik dagu gadis itu untuk mencium bibirnya.

Jiseol tak mencoba menjawab ataupun melawan. Ia malah mengalungkan tangannya pada leher Woobin dan membalas ciuman kekasihnya dengan lembut. Menarik Woobin agar lebih dekat.

Suasana berubah menjadi hening, hanya debaran jantung keduanya yang terdengar. Dengan senyum diantara pergulatan bibir keduanya.

***

Jiseol sedang menata rapi kue kering yang barusaja dibuatnya. Dia sedang belajar untuk memasak. Dia sedikit belajar memasak dari Jimin yang memiliki usaha restoran dan café. Ini adalah percobaan kedua Jiseol, percobaan pertamanya gagal karena ia terlalu banyak menggunakan perasa buah.

Jiseol keluar dari rumahnya sambil membawa sekotak kue kering itu. Ia hendak memberikannya kepada Woobin sebagai hadiah untuk merayakan satu bulan pertamanya bekerja disebuah perusahaan. Jiseol dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya berjalan menuju rumah Woobin. Namun belum sampai di rumah Woobin, Jiseol menghentikan langkahnya.

Jiseol melihat Woobin barusaja turun dari mobilnya bersama dengan seorang gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu terlihat begitu akrab dengan Woobin. Gadis itu bahkan berayun manja dalam pelukan Woobin ketika mereka berdua memasuki rumah Woobin.

Seperti tersambar petir disiang bolong, ternggorokan Jiseol terasa begitu kering. Kaki dan tangannya bergetar. Sementara matanya memerah melihat pemandangan yang barusaja dilihatnya. Ketika Jiseol hendak kembali ke rumahnya, tiba-tiba saja Ibu Woobin muncul dari pintu samping rumahnya.

“Oh, Ahn Ji Seol, apa yang sedang kau lakukan, berdiri disini?” Tanya Ibu Woobin yang melihat Jiseol hanya mematung didepan pagar rumahnya.

“Annyeonghaseo Eommoni, aku.. Aku kemari karena ingin memberikan ini untuk kalian.” Jawab Jiseol sambil menyerahkan sekotak kue kering itu pada Ibu Woobin.

“Apa ini? Kue?”

“Ne, Eommoni. Aku membuat kue itu sendiri. Aku dengar dari Woobin oppa kalau kau menyukai rasa mint, jadi aku juga membuatkan rasa itu untukmu.”

“Geurae? Gomapta Jiseol-ah. Kau tak mau masuk ke rumah? Mari makan malam bersama kami.”

“Gomawo Eommoni.Tapi aku harus segera kembali. Aku akan mengunjungi anda lagi lain kali.”

“Waeyo? Bukankah sangat kesepian tinggal dirumah seorang diri. Jangan sungkan-sungkan, aku juga seorang Ibu rumah tangga yang kesepian. Suami dan anak-anakku jarang dirumah. Sering-seringlah main ke rumah kami. Kita pasti sangat cocok.”

“Ne, lain kali aku pasti akan datang lagi dan berkunjung lebih lama. Aku pamit Eommoni. Sampai jumpa.”

“Hmm..”

 

Jiseol melempar tubuhnya ke tempat tidur. Ia terus menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak. Nafasnya sedikit tersengal seperti habis berlari kencang. Ia tak mengerti mengapa ia harus merasakan ini. Airmata dengan perlahan membasahi seprai kasurnya.

“Kenapa aku seperti ini… Eomma…. Kenapa rasanya harus sesakit ini..”

***

Woobin barusaja kembali dari kantornya. Ia begitu bahagia karena ia bisa diterima dengan baik di perusahaan tempatnya bekerja. Ia ingin membagi kebahagiaannya itu bersama dengan Jiseol. Ia membawa pot berisi mawar hijau ditangannya untuk diberikan kepada Jiseol untuk menambah koleksi tanamannya.

Woobin sudah lebih dari sepuluh menit berdiri didepan pintu rumah Jiseol untuk mengetuk pintu. Tidak biasanya pintu rumahnya dikunci. Biasanya Woobin bisa langsung masuk tanpa harus menunggu Jiseol membukakan pintu. Woobin juga sudah berusaha untuk menghubungi ponsel Jiseol, namun ponselnya tidak aktif.

“Jiseol-ah.. Aku disini. Apakah kau ada didalam? Jiseol-ah.” Teriak Woobin sambil mengetuk pintu rumah Jiseol.

“Apa dia sedang tak ada di rumah?” Gumam Woobin. Namun seingat Woobin, Jiseol tak pernah pergi kemanapun. Sebelumnya juga Jiseol tak pernah mengatakan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat.

“Biasanya dia selalu memberitahuku jika akan pergi. Ada apa dengannya beberapa hari ini?”

 

Woobin pulang ke rumahnya dengan perasaan resah. Ia membawa kembali pot berisi mawar hijau yang sengaja ia beli sebelum pulang. Woobin lalu masuk ke rumah dan menaruh pot itu dibawah jendela rumahnya.

“Waeyo? Kenapa wajah putraku begitu murung sepulang bekerja? Apakah kau memiliki senior yang kejam?” Ibu Woobin langsung bertanya ketika melihat putranya pulang dengan muka yang masam.

“Aniyo..” Jawab Woobin singkat lalu duduk di sofa.

“Geuraedo wae?” Ibu Woobin menjadi sedikit bingung dengan sikap putranya itu. Jika tak ada masalah dengan tempat kerja barunya, namun kenapa Woobin terlihat murung begitu?

“Eomma, apakah kau pernah melihat Jiseol keluar rumah beberapa hari ini?” Woobin tak menjawab pertanyaan Ibunya, kini malah ia yang balik bertanya.

“ Anni.. Memangnya Eomma ini CCTV?” Jawab Ibu Woobin sambil melanjutkan memasaknya.

“Kalau begitu, kapan terakhir kali Eomma melihat Jiseol?”

“Terakhir kali? Kami bertemu didepan rumah. Saat itu ia memberikan sekotak kue kering itu.” Ibu Woobin menunjuk pada kue kering yang ia letakkan diatas meja ruang tengah pemberian dari Jiseol.

“Kue kering? Hari apa itu?”

“Itu, kapan ya… Ah.. saat Lee Yoo Bi kemari.”

“Lee Yoo Bi? Oh? apakah Jiseol melihatku bersama Lee Yoobi?”

“Tentu saja. Dia ada disana ketika kalian datang. Eomma sudah menyuruhnya untuk masuk dan ikut makan malam, namun ia menolaknya.”

***

Jiseol barusaja keluar dari supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-harinya. Ia menenteng dua buah kantong besar yang penuh berisi dengan bahan pokok. Jiseol hendak menuju ke halte terdekat untuk mencari taksi, namun kemudian dengan tiba-tiba ada seseorang yang langsung mengambil dua kantong besar itu dari tangannya.

“YA!”

Jiseol terkejut dan mengejar namja tinggi itu. ia hendak memukul namja itu dengan tas jinjingnya. Namun Jiseol mengurungkan niatnya ketika mengetahui siapa pria yang sengaja mengambil kantong belanjanya.

“Woobin oppa!” Teriak Jiseol terkejut sambil terus mengejar langkah Woobin.

“Kenapa tak meneleponku? Kau kan bisa memintaku untuk mengantarkanmu. Dengan barang bawaan sebanyak ini, bagaimana mungkin kau pergi seorang diri.” Omel Woobin ketika mereka sampai ditempat parkir. Woobin membuka bagasinya dan memasukan dua kantong belanja Jiseol kedalamnya.

“Aku hanya tak ingin merepotkanmu.” Jawab Jiseol lirih.

“Mwo? Kau bilang apa barusan? Merepotkan? Aku sudah melakukan banyak hal yang lebih merepotkan dari ini sebelumnya. Menemanimu berbelanja bukanlah hal yang merepotkan bagiku.”

Mendengar ocehan Woobin, Jiseol hanya bisa tertunduk dan berdiri disamping namja itu. Setelah menutup kembali bagasinya, Woobin menatap Jiseol dan menarik dagu gadis yang suka mengenakan mini dress itu.

“Kenapa diam?” Tanya Woobin lagi. Jiseol masih tak menjawab, malah memalingkan pandangannya dari Woobin.

“Aniya.” Ucap Jiseol. Woobin merasakan sikap Jiseol yang aneh. Beberapa hari Jiseol seperti menghilang, ia sengaja mengunci pintu rumahnya agar Woobin tak bisa masuk seperti biasa. Jiseol bahkan menghindari kontak mata dengan Woobin barusan. Woobin lalu menarik tangan Jiseol dan menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.

Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, tanpa banyak bicara Woobin melajukan mobilnya. Jiseol hanya memandang keluar jendela tanpa mengatakan apapun, meski dalam kepalanya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin sekali ia tanyanya pada Woobin.

 

“Kenapa berhenti disini?” Jiseol akhirnya membuka mulutnya ketika Woobin menghentikan mobilnya disebuah tempat parkir.

“Turun sebentar.” Jawab Woobin lalu turun. Melihat Jiseol yang masih ragu-ragu untuk keluar dari mobil, Woobin membukakan pintu mobil untuk Jiseol dan mengisyaratkan Jiseol untuk turun.

Setelah mereka berdua keluar dari mobil, Woobin dan Jiseol kembali berjalan perlahan. Woobin mengambil ponsel yang ada disakunya dan terlihat menelepon seseorang.

“Oh, aku ditempat parkir dekat tempat kerjamu. Keluarlah. Palli.” Ujar Woobin ketika di telepon.

Tak berselang lama, seorang gadis berambut sebahu datang dan langsung memukul bahu Woobin. “Ya, kenapa kau meneleponku tiba-tiba?” Ujar gadis itu pada Woobin.

“Oh, dia, nuguya?” Gadis itu melihat Jiseol yang berjalan perlahan dibelakang Woobin dan bertanya siapa gadis itu. Jiseol tak mengenal gadis yang menyapa Woobin itu, ia hanya membungkuk untuk memberi salam.

“Dia adalah Ahn Ji Seol, kekasihku.” Ucap Woobin, ia lalu menarik Jiseol dan merangkulnya.

“Ya.. Kau mau pamer kekasihmu padaku? Bukankah waktu itu kau sudah menunjukan foto kalian berdua?Aishh.. Kau terlihat seperti bocah kecil yang suka pamer permen.” Ujar gadis itu sebal, karena merasa Woobin datang hanya untuk pamer.

“Aku memanggilmu kemari karena gara-gara tempo hari kau datang kerumah dan memelukku. Sepertinya kekasihku ini melihatnya dan cemburu. Kau tahu karena kelakuanmu itu berhari-hari dia mendiamkanku dan tak mau bertemu denganku?”

“Oh.. Jinjjayo? Aishh.. Dengarkan ini ya Unnie, aku dan Kim Woo Bin memang sangat dekat. Kami sangat-sangat dekat bahkan sejak kami kecil, itu semua karena kami adalah saudara sepupu. Aku tak punya kakak laki-laki dan Woobin ini juga tak punya adik perempuan, itulah mengapa kami terlihat begitu dekat.

Jadi sepertinya kau hanya salah paham. Lagipula aku juga tak akan sudi berkencan dengan namja seperti dia ini..”

“Ya, tak bisakah kau berhenti membual? Cukup katakan kau adalah adik sepupuku saja, kenapa kau malah jadi kelewatan begini? Lagipula Unnie apa? Jiseol ini lebih muda darimu?”

“Mwo????”

***

“Mianhae~ Oppa.” Ucap Jiseol ketika mereka sedang berjalan berdua didekat sungai Han.

“Mian untuk apa?” Jawab Woobin. Ia sedang memegang tangan Jiseol dengan erat di dalam saku jaketnya.

“Mian karena aku telah salah faham. Mian karena aku telah membuat Oppa khawatir. Mian karena sikap kenakanku, membuat Oppa melalui hari-hari yang tidak menyenangkan.”

“Kau pantas cemburu dan marah. Bukankah cemburu itu tanda cinta?” Woobin menghentikan langkahnya lalu menatap Jiseol dengan intens.

“Ne?” Jiseol mendongak karena Woobin begitu tinggi.

Woobin baru akan membuka mulutnya, namun kemudian hujan turun dan membuat keduanya harus berlari untuk berteduh. Woobin kembali menggenggam tangan Jiseol ketika mereka berdua mencari tempat untuk berteduh. Hujan turun semakin deras dan membuat keduanya basah kuyup. Mereka akhirnya sampai disebuah halte untuk berteduh.

“Pakai ini. Kau tak boleh terkena flu.” Woobin melepaskan jaket yang sedari tadi ia kenakan dan memakaikannya pada Jiseol. Meski keduanya sudah basah kuyup, tapi Woobin tak ingin Jiseol sampai kena flu karena kedinginan. Mengingat Jiseol hanya mengenakan mini dress tipis ditubuhnya.

“Oppa gomawo.” Ucap Jiseol setelah Woobin memberikan jaketnya untuk ia kenakan.

“Jiseol-ah..” Panggil Woobin ketika keduanya kembali saling bertatapan.

“Hmm..” Jawab Jiseol dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Gyeorhonaja.. uri..(Ayo kita.. Menikah..)”

“Ne?”

“Aku bertanya padamu, apakah kau mau menikah denganku? Memulai kehidupan bersama, dan berjanji untuk saling menjaga..

Kau tahu aku sangat mencintaimu, dan aku sangat ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu. Kau au menikah denganku?”

 

~ ♬♬♬ ~

I close my eyes slightly whenever those lonely nights come to me

I no longer fear when your breath holds me

No one in the world can replace you

You are the only one and I’ll be there for you baby

 

You and I together it’s just feel so right

And I will never leave you and no matter what anybody says, I’ll be there to protect you

You and I together, don’t ever let go my hands

I’ll never say ‘goodbye’ to you, even when this world ends…

~ ♬♬♬ ~

~ Ahn Ji Seol POV ~

Setelah semua yang kami lewati, kami percaya bahwa Tuhan telah mempersiapkan rencana yang begitu indah. Takdir yang Tuhan ciptakan untuk kami sungguhlah indah. Tentang bagaimana kami bisa dipersatukan hingga hari yang suci ini, biarlah itu tetap menjadi rahasia-Nya.

Semuanya terasa begitu sulit untuk dipercaya, namun pada hari ini, dihadapan Tuhan dan seluruh Maha karya-Nya, kami akan bersatu. Berjanji untuk saling menjaga untuk selamanya. Berjanji untuk hidup bersama dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Kami akan selalu bersyukur dengan takdir yang telah Tuhan gariskan. Hari ini, kami akan benar-benar menjadi satu jiwa dan menjalani sisa hidup bersama.

 

Just You and I

Forever and ever

–THE END–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s