If It Was True

if it was true cover

Cast :

–       Kim Woo Bin

–        Ahn Ji Seol

Genre : Romance, mystery

Lenght : Oneshot

Rating : General

***

Woobin baru saja pindah ke salah satu perumahan di Gangnam. Keluarganya memutuskan untuk membeli rumah yang lebih besar untuk ditinggali keluarga mereka. Kim Woo Bin adalah putra kedua dari keluarganya.

Perumahan ini bisa di bilang adalah perumahan baru. Beberapa rumah masih kosong. Cukup tenang bagi Woobin yang memang lebih senang menyendiri. Adalah beberapa blok di perumahan ini, dan satu blok hanya terdapat lima sampai enam rumah saja.

Pagi ini Woobin akan pergi kuliah seperti biasanya. Ia harus berjalan keluar komplek perumahan dan pergi ke halte bus terdekat. Mobilnya barusaja di jual karena ingin diganti dengan yang baru. Selagi menunggu mobilnya sampai di rumah dalam beberapa minggu, Woobin terpaksa harus naik bus untuk pergi ke kampus. Hal yang sangat ia sebalkan.

Woobin tak akan mau pergi ke kampus dengan mobil Ayahnya. Ia lebih memilih untuk pergi menaiki bus yang sempit daripada harus pergi bersama Ayahnya. Bukan karena ia membenci Ayahnya, ia hanya tak tak ingin teman-teman kampusnya melihatnya bersama Ayahnya. Ayah Woobin adalah seorang pejabat pemerintah. Entah kenapa dia tak terlalu menyukai pekerjaan Ayahnya itu.

Di blok rumah Woobin hanya ada tiga empat rumah yang telah di tinggali. Rumah Woobin sendiri berada di paling ujung di blok itu. Woobin berjalan melewati beberapa rumah, sebelum ia sampai di gerbang perumahan, ia berhenti di sebuah rumah minimalis khas eropa. Bukan karena ia tertarik dengan desain rumah itu, tapi karena ia melihat seorang gadis yang tengah berdiri di balkon lantai dua.

Gadis berambut panjang itu terlihat tengah bermain dengan bunga-bunga yang ia tanam di balkon rumahnya. Sekilas Woobin melihat senyum gadis yang mengenakan dress mini berwarna peach itu. Woobin terus memandang gadis itu hingga sang gadis pun merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Spontan gadis itu terkejut dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.

Woobin hanya terkekeh melihat tingkah lucu gadis itu. Kemudian ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju halte bus terdekat.

***

“Jangan lupa nanti mampir ke restoran Noona-mu untukmengambil paket makannan.”

Woobin tengah berada di perpustakaan bersama sahabatnya, Kwanghee. Ia membuka ponselnya yang baru saja berdering. Pesan dari Ibunya.

“Woobin-ah, bagaimana rumah barumu? Ku dengar kau baru pindah ke perumahan baru itu.” Seorang teman wanita Woobin yang barusaja tiba langsung duduk disamping Kwanghee dan bertanya.

“Ne, kalian mau mampir? Kebetulan nanti kami akan membagikan makanan untuk para tetangga.” Jawab Woobin.

“Ah jinjjayo? Apa Eomma-mu memasak banyak makanan hari ini?” Kwanghee menanggapi dengan antusias ketika ia mendengar Woobin menyebut tentang makanan.

“Anni.. Eomma tidak memasak, ia telah memesan paket makanan di restoran Noona-ku. Maka dari itu ak mengajak kalian karena aku tak membawa mobil hari ini, jadi aku mau menumpang mobil Kwanghee.”

“Mwoya..” Kwanghee terlihat terkejut sementara Woobin dan kawan wanitanya hanya terkekeh.

***

Woobin sampai di rumahnya dengan membawa box berisi makanan. Ia datang bersama Kwanghee dan Sangbum. Ayah dan Hyung Woobin sendiri belum pulang dari kantor mereka masing-masing.

Ibu Woobin menyuruh Woobin mengantar makanan itu ke tetangga disekitar rumah mereka. tapi Woobin menolaknya dan malah menyarankan Ibunya untuk menyuruh Kwanghee atau Sangbum yang mengantarnya.

“Aku hanya mau mengantar ke  rumah yang ada di Blok pertama saja.” Ujar Woobin.

“Kau ini manabisa menyuruh temanmu yang mengantar, mereka adalah tamu disini.”

“Eomma, mereka sendiri yang menawarkan untuk membantu kita disini. Kau harusnya menghargai tawaran itu.”

Woobin terkekeh melihat Kwanghee dan Sangbum mengomel karena mereka yang akhirnya benar-benar pergi mengantar makanan ke tetangga sekitar rumah Woobin.

“Aku berniat datang kemari untuk mendapat makanan gratis, tapi Woobin malah memperalat kita seperti ini.” Oceh Sangbum pada Kwanghee.

Woobin sendiri pergi membawa sekotak makanan ke rumah gadis yang ia jumpai pagi tadi. Woobin mengetuk pintu rumah berwarna abu-abu itu. Rumah itu terlihat sepi. Apa tak ada orang disini? Batin Woobin.

“Chogiyo..” Panggil Woobin lagi. Namun tak ada jawaban.

“Bukankah tadi pagi aku melihat gadis itu di rumah ini. Apa dia sedang pergi? Rumah ini sepertinya kosong.” Ujarnya lagi.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya Woobin menyerah. Mungkin penghuni rumahnya sedang pergi. Ia berniat untuk kembali ke rumahnya. Namun ketika ia hendak berbalik, tia-tiba saja pintu rumah itu terbuka sendiri.

Woobin yang melihat itu menghentikan niatnya untuk kembali ke rumahnya. Ia kemudian masuk ke rumah itu. Tapi kosong. Lalu siapa yang membukakan pintunya barusan?

“Chogiyo..” Ujar Woobin sambil mengetuk pintu.

“Aku adalah tetangga baru kalian. Kami baru pindah minggu lalu. Aku membawa makanan ini sebagai salam.” Woobin terlihat bingung karena tak ada seorangpun dirumah itu yang menyautinya.

“Taruh saja di meja.” Tiba-tiba ada suara gadis yang berbicara. Woobin menengok sekeliling rumah, mencari darimana suara itu berasal.

“Omooo..”

Betapa terkejutnya Woobin ketika melihat seorang gadis yang tiba-tiba saja keluar dari sebuah ruangan. Gadis itu mengenakan kimono berwarna putih dengan rambut yang masih basah.

“Mianhaeyo, aku sedang mandi dan tak mendengar kau mengetuk pintu.” Gadis itu terlihat malu dan lebih memlilih untuk berdiri di ambang pintu kamar mandi.

“Ah ne. Harusnya aku yang minta maaf karena mengganggumu. Aku akan meletakkan makanannya di meja. Se-selamat menikmati.”

Woobin merasa canggung. Ia datang disaat yang kkurang tepat. Bagaimana bisa ia datang disaat sang gadis sedang mandi. Betapa memelukannya, batin Woobin.

***

“Ya! Kenapa kau lama sekali? Kami menunggumu.” Ujar Kwanghee ketika Woobin barusaja masuk ke ruang makan. Kwanghee dan Sangbum telah anteng duduk di meja makan. Sementara Ibu Woobin terlihat sedang menyiapkan makanan.

“Kau pasti bertemu dengan gadis cantik bukan?” Goda Sangbum.

“Gadis cantik yang misterius. Dia sedang mandi ketika aku sampai di rumahnya.” Jawab Woobin yang kemudian mengambil tempat duduk di meja makan dan bergabung bersama Sangbum dan Kwanghee.

“Mwoya, dia sedang mandi? Kau datang dan..”

“Aishh, bukan seperti itu pabo! Itu tak seperti yang kau pikirkan.”

“Sudah sudah.. Sekarang adalah waktunya makan. Biar saja Woobin bertemu dengan gadis itu. Semoga gadis itu bisa membuat Woobin betah tinggal di lingkungan ini. kajja makan.” Woobin tersenyum lebar mendenga apa yang dikatakan oleh Ibunya.

***

Woobin masih penasaran dengan gadis cantik yang ada di rumah itu. Ia kembali datang ke rumah sang gadis dengan membawa sebuah bunga yang masih lengkap dengan potnya.

“Chogiyo..” Woobin mengetuk pintu rumah itu. Tak berselang lama sang gadis pun membukakan pintunya.

“Oh, kau? Bukankah kau tetangga baru itu.” Ujar sang gadis.

“Eum, ne. Kau masih mengingatku ternyata.” Woobin terlihat sedikit canggung.

“Apa ada yang bisa aku bantu?” Tanya sang gadis.

“Tidak kah kau mempersilahkan aku masuk dulu? Kita bahkan belum berkenalan.” Sang gadis memang membukakan pintu untuk Woobin, tapi ia belum mempersilahkannya masuk. Mereka masih berdiri di depan pintu rumah sang gadis.

“Ah nde, aku lupa. Silahkan masuk. Kau bisa duduk dimanapun kau mau.”

Woobin memperhatikan gadis cantik itu. Gadis berkulit putih pucat itu memiliki senyum yang sangat manis, batinnya.

“Kim Woo Bin imnida, bangapseumnida.” Woobin memperkenalkan dirinya sebelum ia duduk di sofa ruang tamu sang gadis.

“Ahn Ji Seol imnida, bangapta.” Gadis bernama Jiseol itu membungkuk untuk memberi salam perkenalan.

“Aku hampir lupa, aku membawa ini untukmu.” Woobin memberikan bunga yang sedari tadi ia bawa kepada Jiseol.

“Ku lihat kau suka memelihara bunga di balkon rumahmu, jadi aku membawakanmu ini agar kau bisa merawatnya dan untuk menambah koleksimu.” Ujarnya lagi.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku suka memelihara bunga?” Tanya Jiseol ketika ia menerima bunga dari Woobin.

“Aku melihatmu bermain dengan mereka beberapa hari yang lalu di balkon rumahmu, kau lupa?”

“Ka-kau melihatku? Bagaimana bisa?”

Semenjak hari itu Woobin semakin sering datang ke rumah Jiseol untuk membawakan pupuk atau hanya sekedar mengobrol dengan gadis itu. Woobin sering dibuat bingung dengan sikap gadis itu yang selalu menanyakan apakah dia terlihat aneh?

Jiseol memang terlihat sedikit aneh. Dia tak pernah keluar rumah walau hanya sekedar pergi ke halaman rumah. Jiseol hidup sendiri di rumah itu. Ia bilang Ibunya telah meninggal ketika ia masih duduk di sekolah menengah pertama, Ayahnya lebih sering berada di luar negeri untuk mengurusi bisnisnya. Sebenarnya Jiseol memiliki seorang kakak, namun karena sang kakak telah menikah kakaknya harus tinggal bersama suaminya.

“Bagaimana kau makan jika di kulkasmu bahkan kosong begini?” Woobin sedang kelaparan karena Ibunya sedang tak ada di rumah dan tak ada makanan, ia datang ke rumah Jiseol berharap menemukan makanan, namun nihil, isi kulkas Jiseol bahkan lebih parah dari yang ia miliki.

“Mwoya! Kau ini lancang sekali Kim Woo Bin!”

“Aku lapar Jiseol-ah, tak bisakah kau memasakanku makanan? Apa yang kau makan stiap hari jika di kulkasmu tak ada makanan sama sekali?”

“Aku tak pernah makan.” Jawab Jiseol santai.

“Jinjjayo?” Woobin terkejut dengan pernyataan Jiseol barusan, namun dengan cepat Jiseol menjelaskan maksud ucapannya barusan.

“A-anni, anni, maksudku, aku memang tak pernah memasak sendiri makananku. Aku adalah vegetarian, aku sedang dalam program diet, jadi aku memesan makanan dari restoran vegetarian langgananku.”

“Pantas saja kau terlihat begitu kurus begitu. Berhentilah diet, kau sudah terlalu kurus.”

“Ya, siapa kau menyuruhku untuk berhenti diet?!”

“Naega? Aku adalah calon kekasihku, jadi kau lebih baik untuk mendengarkan apa yang aku katakan.” Woobin menyunggingkan smirknya dengan menatap intens mata Jiseol. Jiseol yang tersipu langsung lari meninggalkan Woobin sendiri di dapur, sementara ia masuk kedalam kamarnya dengan pipi yang merah merona. Membuat Woobin semakin gemas melihatnya.

“Ya! Ahn Ji Seol, jangan lari! Kau belum menjawab pernyataanku barusan! Aku tahu kau juga menyukaiku!”

 ***

“Ahn Ji Seol-ah, kenapa kau terus saja menggambar simbol-simbol aneh itu sementara kekasihmu tengah berada disampingmu?” Woobin terus memperhatikan Jiseol yang sedari tadi sibuk dengan kertas-kertas berisi simbol yang tak ia mengerti.

“Aku sedang berusaha menulis.” Jawab Jiseol singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di depannya itu.

“Aissh.. Tak bisakah kita berkencan seperti pasangan normal lainnya? Pergi menonton film di bioskop atau sekedar berjalan-jalan menikmati musim gugur ini?” Woobin memainkan rambut hitam Jiseol yang tergerai indah disampingnya, tak ada yang lebih menyenangkan selain bermanja-manja kepada kekasihnya itu.

“Kau selalu saja mengatakan hal itu. Seandainya saja kau tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Mworago? Apa ada yang kau sembunyikan dariku? Sesuatu yang tidak aku tahu tentangmu?” Woobin menghentikan aktivitasnya dan menarik bahu Jiseol agar ia bisa menatap mata gadis itu.

“Ah, anni, aku hanya..”

“Hanya apa?” Gadis itu terlihat kebingungan, sementara Woobin terus menatapnya dengan intens.

“Aku-aku hanya tak ingin orang-orang melihatmu aneh jika kau berjalan denganku.”

“Wae? Kenapa aku harus terlihat aneh? Kau kekasihku, aku hanya ingin orang-orang tahu tentang itu. Kau bahkan tak pernah mau bertemu dengan Eomma-ku padahal jarak rumah kita hanya berselisih dua Blok.”

Akhirnya Jiseol pun menyerah dan mau pergi bersama dengan Woobin untuk menonton film. Entah kenapa gadis itu terlihat gelisah. Dia terus mondar mandir di depan cermin sementara Woobin pulang ke rumahnya untuk mengambil mobilnya.

“Eottokae? Aku benar-benar takut.”

Tak berselang lama Woobin kembali dengan mobilnya dan menunggu di depan rumah Jiseol. Jiseol keluar dengan ragu-ragu. Woobin pun semakin merasa aneh dengan sikap Jiseol.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” ujar Jiseol ketika Woobin menatapnya intens.

“Jadi ini yang kau bilang kau takut orang-orang akan melihatku aneh ketika akupergi denganmu?” Jawab Woobin mengernyitkan dahinya.

“Ka-kau mengetahuinya?”

“Aku mau mengajakmu jalan-jalan dan pergi ke bioskop, sementara kau mau pergi dengan  bertelanjang kaki seperti itu? Kau tak mau memakai sepatu?” Woobin berpikir kenapa gadis cantik seperti Jiseol bahkan tak pernah mengenakan sepatu.

Jiseol akhirnya masuk dan kembali dengan memakai sepatu high heelsnya. Woobin terlihat puas dengan penampilan sang kekasih yang selalu terlihat cantik baginya, walau Jiseol tak pernah sekalipun terlihat memakai makeup.

Mereka sampai di gedung bioskop. Jiseol terlihat begitu ketakutan dan terus menggenggam tangan Woobin. Woobin pikir mungkin Jiseol hanya takut karena ia sudah lama tak pernah keluar dari rumahnya.

Ketika Woobin membeli tiket dan popcorn untuk berdua, sang penjual tiket melihat Woobin dengan tatapan yang aneh. Ia melihat ke arah Jiseol yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada bahu Woobin.

Woobin dan Jiseol menonton film komedi romantis. Di deretan kursi duduk mereka hanya ada Woobin dan Jiseol, kemdian datang sepasang kekasih juga yang akan duduk disamping Woobin dan Jiseol. Pasangan itu terlihat sibuk meributkan tentang tempat duduk yang telah mereka pilih. Sang lelaki kemudian menyuruh kekasihnya untuk duduk di kursi di samping Woobin, terang saja Woobin langsung geram.

“Kau tak lihat kursi ini telah di duduki oleh kekasihku?” Woobin melirik Jiseol yang tempat duduknya ditunjuk oleh sepasang kekasih itu.

Selama menonton film Woobin di buat tidak nyaman oleh sepasang kekasih tadi yang duduk di deretan kursi Woobin dan Jiseol. Sepasang kekasih itu terus berbisik dan menatap aneh ke arah Woobin. Woobin mencoba mengabaikannya. Sesekali Woobin berbicara dengan Jiseol.

Ketika film berakhir dan Woobin dan Jiseol akan beranjak meninggalkan studio, Woobin kembali bertanya kepada Jiseol kemana ia mau pergi selanjutnya.

“Kau mau minum kopi? Atau sekedar berjalan-jalan di district ini?” Tanya Woobin pada Jiseol.

“Tak bisakah kita pulang saja Woobin-ah?” Jawab Jiseol yang di balas tolakan oleh Woobin.

“Dasar orang aneh.”

“Mungkin namja itu depresi karena baru ditinggal kekasihnya.”

Beberapa orang terlihat menatap Woobin dengan tatapan aneh ketika ia dan Jiseol berjalan keluar dari studio. Beberapa dari mereka berbisik ketika Woobin dan Jiseol melewati mereka. Awalnya Woobin pikir orang-orang itu bukan berbisik padanya, namun semakin banyak yang menatap aneh ke arahnya.

“Tak bisakah kita pergi ke tempat yang sepi dan tak banyak orang? Aku merasa tidak nyaman dengan banyak tatapan orang kepada kita.” Jiseol mencoba untuk merayu Woobin manja. Woobin yang juga akhirnya merasa tak nyaman dengan tatapan orang-orang kepadanya akhirnya mengabulkan permohonan Jiseol untuk pergi ke tempat yang sepi.

Woobin mengajak Jiseol ke sungai Han. Setidaknya disini tak banyak orang yang datang. Jiseol terlihat antusias, ia berlari menuju tepi sungai ketika mereka sampai.

“Ya, Jiseol-ah, apakah Ayahmu tak pernah memperbolehkanmu keluar rumah hingga kau terlihat begitu kekanakan begitu?” Ujar Woobin yang berjalan santai menyusul kekasihnya itu.

“Aku hanya sudah begitu lama tak pergi keluar.” Jawab Jiseol yang sekarang tengah sibuk bermain-main dengan daun yang berguguran.

”Waeyo?”

“Aku terlalu takut.”

“Takut?”

***

Woobin harus berangkat pagi untuk kuliah hari ini. Ia begitu bahagia telah menghabiskan banyak waktu bersama dengan Jiseol beberapa hari belakangan. Meski ia terkadang dibuat bingung dengan sikap Jiseol yang aneh.

Ketika Woobin sedang mengendarai mobilnya melewati rumah Jiseol, ia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Jiseol. Seorang wanita barusaja keluar dari mobilnya. Spontan Woobin pun menghentikan mobilnya dan turun.

“Annyeonghaseumnika.” Sapa Woobin pada wanita itu.

“Annyeong.” Jawab sang wanita dengan sopan.

“Apakah kau Ahn Ji Min? Kakak Jiseol?” Tanya Woobin.

“Ne, benar. Kau mengenal adik ku?” Wanita bernama Ahn Ji Min itu balik bertanya kepada Woobin.

“Aku sangat mengenalnya. Dia banyak cerita tentangmu. Rumahku di blok sana, aku baru pindah tiga bulan yang lalu.”

Ahn Ji Min terlihat bingung dengan pernyataan Woobin. Kemudian Woobin berpamitan karena harus segera pergi kuliah. Sebelum pergi Ahn Ji Min sempat bertanya sejak kapan Woobin mengenal Jiseol.

“Apakah kau teman SMA Jiseol? Sejak kapan kau mengenal adik-ku?”

“Sejak tiga bulan yang lalu ketika keluargaku barusaja pindah ke kompleks perumahan ini.”

***

“Kau akhir-akhir ini memang aneh Woobin-ah. Kau selalu mengatakan sibuk ketika kami mengajakmu untuk pergi bersenang-senang. Kau lebih memilih kekasihmu itu.”

“Benar yang di katakan Sangbum. Kau sekarang leih senang berdiam diri dirumah kekasihmu yang misterius itu!”

“Ya! Apa maksudmu mengatakan Jiseol-ku misterius?”

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa dia aneh. Sudah hampir dua bulan kalian berkencan tapi tak sekalipun kau mengenalkannya kepada kami atau sekedar menunjukan fotonya.”

Woobin terlihat sejenak berpikir. Apa yang dikatakan Kwanghee dan Sangbum benar. Jiseol tak pernah mau dikenalkan pada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat Woobin. Jiseol juga tak memiliki ponsel. Ia tak pernah menjawab telepon Woobin dari telepon rumahnya.

***

Woobin langsung pergi ke rumah Jiseol ketika ia pulang dari kampus. Ia masuk ke rumah Jiseol tanpa mengetuk pintu seperti biasa. Dilihatnya Jiseol yang tengah menyandarkan kepalanya sambil memainkan pianonya. Woobin tersenyum. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan diam-diam mengambil foto Jiseol itu.

“Chagiiii..” Panggil Woobin. Ketika Jiseol berbalik ia kembali mengambil foto sang kekasih itu.

“Ya! Kau mengejutkanku!” Ucap Jiseol sebal.

“A-apa yang kau lakukan?” Melihat Woobin memegang ponsel Jiseol semakin terkejut.

“Aku hanya ingin mengambil foto kekasihku, wae? Aku ingin menunjukannya pada teman-temanku bahwa aku memiliki kekasih yang cantik.”

“Andwaeyo! Hapus foto itu!”

Jiseol berusaha meraih ponsel Woobin yang ada di genggamannya. Woobin semakin meninggikan ponselnya agar Jiseol tak dapat meraihnya. Ketika Jiseol hendak melompat untuk meraih ponsel Woobin tiba-tiba saja ia terjatuh.

“Jiseol-ah, gwaenchana?” Tanya Woobin.

“Nan gwanchanayo.” Jawab Jiseol.

Woobin khawatir melihat Jiseol yang kesakitan. Ia membantu Jiseol berdiri. Tubuh Jiseol terlihat begitu lemah hingga akhirnya Woobin menggendong kekasihnya itu dan membawanya ke kamarnya. Wajah Jiseol terlihat semakin pucat. Tak ada luka pada tubuhnya, namun Woobin menyarankan Jiseol untuk pergi ke dokter.

“Aku tak apa Woobin-ah.” Ujar Jiseol yang menolak untuk di bawa ke rumah sakit.

“Tadi pagi aku bertemu dengan kakakmu.” Woobin masih menemani Jiseol di kamarnya dan berusaha memastikan bahwa Jiseol benar baik-baik saja.

“Kau bertemu dengan Eonni? Apa yang dia katakan padamu?” Tanya Jiseol.

“Dia hanya bertanya bagaimana aku bisa mengenalmu. Dia bertanya apa aku adalah teman SMA mu.”

***

Keesokan harinya Woobin kembali bertemu dengan kakak Jiseol di depan rumah Jiseol. Namun yang membuat Woobin terkejut adalah karena kakak Jiseol memasang sebuah tulisan di depan rumah Jiseol. Rumah Jiseol akan di jual.

“Noona-ya, kenapa rumah ini dijual?” Tanya Woobin kepada Jimin kakak Jiseol.

“Rumah ini sudah terlalu lama tidak ditempati. Ku pikir lebih baik jika kami menjualnya.” Jawab Jimin.

“Apa kau bilang, rumah ini sudah lama tidak ditempati? Bukankah selama ini Jiseol tinggaldi rumah ini seorang diri?”

“Jiseol? Jiseol tak ada disini dia di rumah sakit.”

Hal yang tak pernah Woobin bayangkan. Jimin menjelaskan semua yang terjadi pada Jiseol. Woobin membeku tak percaya, berharap ini hanya lelucon.

Jimin mengatakan bahwa Jiseol mengalami kecelakaan enam bulan yang lalu. Ia mengalami koma karena cidera otak yang cukup parah. Jiseol sempat dirawat di Singapura selama empat bulan, namun kemudian kembali dibawa ke Seoul karena tak ada perkembangan.

***

Woobin memandang nanar sebuah tubuh yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Ia benar-benar tak percaya bahwa gadis yang terbaring itu adalah Ahn Ji Seol. Selama enam bulan ini Jiseol hidup karena dibantu oleh alat-alat itu.

Sekarang Woobin mengerti mengapa Jiseol tak pernah mau pergi keluar rumah. Tak pernah mau dikenalkan pada orang lain. Dan selalu mengatakan apakah ia tak terlihat aneh.

Woobin mengerti mengapa saat ia pergi ke bioskop bersama Jiseol dan orang-orang mengatakan bahwa Woobin tidak waras karena mereka tak bisa melihat Jiseol. Lalu bagaimana bisa hanya ia yang bisa melihat Jiseol, atau lebih tepatnya roh Jiseol. Bahkan kakaknya heran ketika mendengar cerita Woobin yang bertemu dan berkencan dengan Jiseol.

Woobin membuka ponselnya dan kembali melihat foto Jiseol yang diam-diam ia ambil beberapa waktu yang lalu. Semua fotonya kosong. Tak ada gambar Jiseol dalam foto-foto itu.

Woobin tak pernah percaya dengan hantu dan tahayul. Lalu Jiseol itu apa? Dia bukan hantu karena memang pada kenyataanya Jiseol masih hidup walau dalam keadaan koma. Woobin juga tak pernah bertemu dengan Jiseol sebelumnya, atau saat Jiseol masih sehat.

“Annyeonghaseo.” Seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Jiseol. Jiseol memang harus selalu di pantau keadaannya dan diterapy agar otot-otot tubuhnya tidak kaku karena tak pernah bergerak.

“Aku telah mendengar kisahmu dari kakak Ahn Ji Seol. Ini memang hal yang sangat tidak masuk akal. Aku sebagai dokter juga tak pernah percaya dengan dunia mistis dan sebagainya. Tapi percaya atau tidak, bukan hanya kau yang pernah mengalami hal seperti ini.

Aku beberapa kali menangani kasus pasien yang koma karena kecelakaan atau penyakit dalam. Seseorang kemudian datang dan mengatakan telah bertemu dengan pasien koma itu dan berbicara dengan mereka. Lalu kemudian aku bertemu dengan seorang temanku yang memiliki kemampuan yang tak bisa dimiliki orang kebanyakan, dia indigo sejak ia berumur tiga tahun. Temanku bisa melihat dan merasakan sesuatu dari dunia yang tak bisa orang normal lihat.

Ia mengatakan bahwa beberapa kali ia melihat roh dari orang yang belum meninggal. Mereka seperti roh yang terperangkap, tidak hidup, tidak juga mati. Roh itu tak bisa memilih siapa yang bisa melihat atau mereka temui. Tak semua orang memiliki kemampuan itu.

Ku rasa apa yang kau alami hampir sama dengan yang mereka alami. Kau bertemu dengan roh Ahn Ji Seol. Tapi itu tak berpengaruh dengan perkembangan tubuhnya. Jiseol bahkan terus mengalami penurunan.”

Woobin hanya terdiam mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter Han. Ia kembali menatap tubuh Jiseol yang lemah. Semenjak kejadian Jiseol terjatuh, Jiseol memang terlihat semakin lemah dan pucat. Semenjak hari itu Woobin tak pernah lagi melihat Jiseol.

“Jiseol-ah, eodiga?”

Woobin menggenggam erat tangan Jiseol yang dingin. Ia berharap bahwa ini tak nyata. Hari-hari yang ia lalui bersama Jiseol. Hari-hari dimana ia jatuh cinta pada gadis itu.

“Jiseol irreona, bisakah kau jelaskan ini semua padaku?”

“Aku disini Woobin-ah.”

Suara itu. Woobin bangkit dari tempat duduknya dan melihat sekeliling kamar rawar inap. Dicarinya sumber suara itu. Suara Jiseol, tapi dimana dia? Woobin tak melihat apa pun. Tubuh Jiseol juga masih terbaring ditempatnya.

“Ahn Ji Seol kau disini?”

“Katakan bahwa ini semua hanya lelucon. Katakan bahwa kau baik-baik saja.”

Woobin terus mencoba untuk mencari sosok Jiseol. Namun nihil. Mungkin ini semua hanya halusinasinya saja. Woobin mulai frustasi dan belum bisa mempercayai semua ini.

“Kami bahkan saling berpelukan dan berciuman, bagaimana mungkin itu hanyalah roh Jiseol.” Ucap Woobin pada Dokter Han.

***

Woobin kembali ke rumah Jiseol. Ia memasuki rumah yang kini terlihat nyata. Sebelumnya rumah itu bersih dan rapi. Tapi kini hampir seluruh perabotan telah ditutup oleh kain putih. Debu bertebaran dimana-mana.

Woobin masuk ke kamar Jiseol dimana ia terakhir kali bertemu Jiseol ketika ia sakit. Membuka lemari pakaian Jiseol yang masih tertata rapih. Kertas-kertas berisi simbol-simbol yang ditulis Jiseol tergeletak di meja begitu saja.

Ketika Woobin berniat untuk keluar dari kamar Jiseol tiba-tiba saja salah satu kertas bergeser dengan sendirinya.

“Jiseol.” Panggil Woobin lirih. Di lihatnya kertas itu. Kertas itu berisi simbol panah.

“Apa ini? Apa kau mau memberi tahuku bahwa kau disini Jiseol-ah?” Woobin segera mencari pensil di laci meja Jiseol. Ia berharap bahwa Jiseol mungkin ingin mengatakan sesuatu.

Pensil itu bergerak dengan sendirinya. Gerakan pensil itu terlihat begitu lemah. Sepertinya Jiseol berusaha keras untuk menunjukan bahwa ia ada disana.

“Aku terus berusaha untuk berbicara denganmu, tapi kau tak bisa lagi melihatku. Tubuhku begitu lemah. Aku takut bahwa aku akan pergi selamanya.”

Woobin membaca tulisan di kertas itu. Tulisannya sangat berantakan dan hampir tak terbaca. Woobin kini mengerti mengapa waktu itu Jiseol berusaha membuat simbol-simbol aneh di kertas karena ia tak bisa menulis dengan benar lagi.

“Semuanya terasa semakin gelap dingin. Aku takut.” Tulisnya lagi.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu Jiseol-ah? Aku bahkan tak bisa lagi melihatmu.” Woobin berusaha mencari sosok Jiseol.

“Saranghae.”

Itu adalah kata terakhir yang Woobin temukan di kertas. Woobin panik dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Woobin akhirnya berlari keluar dari rumah Jiseol dan segera masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir di depan rumah Jiseol.

Woobin sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang perawatan Jiseol. Jimin terlihat berada di depan pintu kamar perawatan Jiseol dengan berlinang air mata. Woobin kemudian masuk ke dalam kamar perawatan Jiseol dan mendapati beberapa dokter dan perawat tengah memeriksa keadaan Jiseol.

“Apa yang terjadi?” Tanya Woobin pada salah satu perawat yang ada diruangan itu.

“Kondisi Jiseol tiba-tiba menurun derastis. Dokter sedang berusaha untuk memeriksa organ dalamnya. Pasien akan segera di pindahkan ke ruang ICU.”

Woobin terdiam. Ia menatap tubuh lemah Jiseol yang kembali harus di pasang alat-alat bantu. Airmata Woobin tak bisa ia bendung lagi. Dokter dan perawat membawa tubuh Jiseol ke ruang ICU. Sementara Jimin yang datang bersama suaminya terlihat tak berhenti menangis.

“Ini kah mengapa Jiseol mengatakan bahwa semua terlihat semakin gelap dan dingin. Inikah yang di takutkan oleh Jiseol.” Ujar Woobin dalam hati.

“Haruskah kau pergi secepat ini Jiseol-ah? Kita bahkan belum pernah benar-benar bertemu secara nyata.”

 

-FIN-

Advertisements

One comment on “If It Was True

  1. Pingback: ALIVE LOVE | beylicious7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s